RSS

Macet, Mal dan Urbanisasi

13 Oct


Macet. Buat orang yang tinggal di Jakarta, hal ini menjadi sebuah momok. Terlalu banyak penduduk? Terlalu banyak kendaraan bermotor? Infrastruktur yang kurang menunjang? Tidak adanya kepedulian dari Foke? Terlalu banyak Mall? Banyak hal yang menurut saya yang menjadi pemicu kemacetan.

Berawal dari statement yang dilontarkan @RoySayur di twitter yang menilai kalau penyebab kemacetan paling utama di Jakarta adalah karakter manusia pengguna jalannya, saya juga ingin mengajukan faktor pendukung penyebab kemacetan di Jakarta.

Menurut saya Mall atau Mal(diindonesiakan) adalah salah satuMal faktor pendukung penyebab kemacetan di Indonesia. Seringkali saya berpikir, kalo ke Mal itu hanya pada saat Sabtu-Minggu. Seiring berjalannya waktu, hal ini sudah tidak bisa dibenarkan lagi. Banyak bidang pekerjaan yang menjadikan Mal sebagai tempat meeting terutama mal yang memiliki Café atau Coffee Shop dimana mereka bisa berlama-lama membahas suatu masalah.

Bagi mereka yang bekerja di dunia hiburan seperti musisi, artis, penulis, sutradara dan masih banyak lagi, mereka sering menjadikan mal sebagai tempat meeting internal ataupun bertemu dengan pihak klien. Hal ini juga mengingat bahwa dengan begini mereka tidak perlu menyewa tempat untuk dijadikan kantor. Mereka tidak perlu khawatir dengan biaya utilitas seperti listrik, air dll. Cukup membawa Laptop, Notebook, iPad beserta chargernya, mereka sudah bisa bekerja dengan maksimal. Apalagi bila café/coffee  shop tersebut sudah difasilitasi dengan Wi-fi gratis.

Terkait dengan jumlah penduduk di Jakarta, menurut saya Mal itu sendiri jadi daya tarik bagi orang untuk ber-urbanisasi. Mengapa? Orang beranggapan bahwa Mal itu sebagai tempat rekreasi untuk seluruh keluarga dan juga kesempatan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan. Sesuai dengan pernyataan ahli tata kota yang diwawancara Pandji Pragiwaksono (@pandji) di acara radio Provocative Proactive di Hardrockfm, bahwa sampai saat ini ada lebih dari 100 Mal di Jakarta dan diperkirakan masih akan bertambah sekitar 100 lagi.

Melihat hal ini, saya berpendapat salah satu solusi kemacetan adalah dengan memindahkan ataupun membangun Mal di daerah-daerah lain terutama di luar Pulau Jawa. Saya percaya sedikit banyak hal ini bisa membantu pemerataan penduduk dan nantinya kesejahteraan (berharap). Komentar dan masukannya ditunggu 🙂

Advertisements
 
7 Comments

Posted by on October 13, 2010 in Uncategorized, Urban

 

Tags: , ,

7 responses to “Macet, Mal dan Urbanisasi

  1. uyeah

    October 13, 2010 at 22:21

    Klo kata Ibnu Hibban “Tanda-Tanda Kiamat Kecil dari Rasulullah” salah satunya: pasa-pasar (tempat belanja) saling berdekatan 🙂

     
  2. otsamir

    October 14, 2010 at 09:54

    solusi pemerataan pembangungan sarana hiburan (seperti mal) di luar jawa memang salah satu ide yang cukup valid untuk menjadi ‘pull-factor’ masyarakat untuk tidak melakukan migrasi ke ibu kota selaku epicentrum sarana hiburan nasional.

    namun demikian, yang om sesa perlu pertimbangkan, adalah fakta bahwa penyebab kepadatan lalu lintas pada saat ini, bukan terutama disebabkan oleh penduduk luar jakarta yang ingin semata-mata mengunjungi salah satu atau dua malnya, melainkan over-populasi stakeholders yang memiliki motivasi mencari nafkah di jakarta (termasuk di antara lain, tentu, mereka yang memiliki kepentingan ekonomi di sektor perdagangan barang dan jasa yang mungkin menjalankan kepentingan tersebut di ratusan mal yang ada).

    hal kedua yang patut dipertimbangkan adalah pertanyaan berikut ini: “apapakah ketika banyak mal di bangun di daerah-daerah di luar jakarta/jawa,masyarakat yang sudah berdomisili tetap di jakarta akan rela lakukan migrasi (kembali) ke daerah-daerah tersebut?” jawabannya tergantung dari variabel-variabel yang ada. variabel yang secara kasat mata dapat diidentifikasi antara lain: seberapa besar vested interest masyarakat pada mal-mal di luar jakarta?; berapa persen keterlibatan penduduk jakarta dengan aspek komersial pemanfaatan industi mal di luar jakarta ?; dan yang terpenting: apakah insentif untuk ‘sekedar mengunjungi mal’ dan ‘potensi profit dengan menjadi merchant di mal di luar jakarta’ cukup besar untuk menjadi ‘push factor’ bagi sebagian besar penduduk jakarta untuk pindah dari jakarta?

    hipotesis saya untuk pertanyaan terakhir: tidak. insentif bagi masyarakat yang sudah terlanjur berdomisili di jakarta untuk keluar dari jakarta untuk ‘sekedar mengunjungi mal’ ataupun berinvestasi pada mal luar jakarta sebagai sumber penghidupan, TIDAK CUKUP BESAR untuk mendorong sebagian besar penduduk jakarta (‘cukup besar’ dalam arti: jumlah yang cukup signifikan untuk membuat kondisi kepadatan lalu lintas jakarta bisa ditolerir) untuk angkat koper dan hengkang dari jakarta.

    menurut hemat darwinis saya, satu2nya hal yang akan mendorong ‘sebagian besar’ warga jakarta untuk keluar dari jakarta adalah kondisi jakarta itu sendiri. ketika keadaan di jakarta sudah sampai pada titik tidak manusiawi lagi untuk langgengkan kehidupan, manusia akan secara instinctive dan intuitive hengkang.

    salam,
    didiet.

     
  3. @RoySayur

    October 14, 2010 at 10:16

    Sodaraku sebangsa dan setanah air. Macet itu bukan kutukan. Juga bukan musibah. Ia ada karena memang sudah menjadi keniscayaan bahwa setiap hal yg diurus bukan oleh Ahlinya maka tunggu saja kerusakannya.

    Eh apa iya? Gak juga sih ya. Apa ga mestinya kita yg bercermin. Apa kita punya SIM gak nembak dengan komptensi mengemudi yg mumpuni?

    Apa iya kita sudah taat berlalu lintas?

    Selanjutnya, apa iya mau kita diatur. Plat nomer ganjil bolehnya senin rabu jumat. Genap selasa kamis sebtu.

    Selanjutnya kita pikirkan juga soal lahan peruntukkan. Sepakat sy dengan tulisan MasBro @Sesa.

    Namun jauh dr masalah Mal atau bukan yg mjd salah satu sebab, kota superpower jakarta memang terlalu memelihara beban terlalu berat. Pusat pemerintahan, pemukiman, bisnis hingga pendidikan.

    Apalagi ya?

     
  4. @LeoneHan

    October 14, 2010 at 11:40

    Bgmn dgn pembatasan kendaraan? Misalnya dengan memberlakukan umur kendaraan. Jadi kendaraan yg suda berumur lebih dari 10 tahun harus ditarik dari peredaran.
    Atau dengan angkot2 yang suka menaikan-menurunkan penumpang bukan pada tempatnya. Meskipun dgn tingkah laku itu akan lebih memberikan keefektifan bagi pengguna angkot.

     
  5. diazzulian

    October 19, 2010 at 11:52

    ada bener nya juga sih memindahkan ataupun membangun mal di daerah lain.. tapi banyak pertimbangannya juga kan.. selain daya beli masyarakatnya yang tinggi maupun rendah.. mana mau perusahaan mau membangung mall klo daya beli masyarakatnya rendah.. Sarana hiburan pun bisa menjadi penghibur bagi masyarakat di daerah .. Karena saya orang daerah saya sangat merasakan bgt bagaimana salah satu hiburan sangat kurang di daerah saya… hehehe. 🙂

     
  6. dwijef

    October 22, 2010 at 17:04

    well… here goes nothin’:
    banyak sekali faktor penyebab macet, dan mungkin sudah seperti lingkaran setan. macet karena banyak mal, banyak mal karena banyak penduduk, banyak penduduk karena jakarta masih memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi kebanyakan orang. karena daya tarik itulah, sebagian orang memilih tinggal di jakarta, atau setidaknya di sekitar jakarta, dan untuk menunjang mobilitas, mereka membeli kendaraan pribadi, karena macet dan naik angkot di jakarta sungguh tidak nyaman.
    Nah lho?!!!

    Kayanya memang intinya, daya tarik Jakarta masih kuat sekali, secara ekonomi, secara hiburan, secara pendidikan, secara pusat pemerintahan… secara gitu lowwwhhh.

    Dan mungkin daya tarik itu yang harus dibagi ke daerah lain. Memindahkan pusat hiburan (baca:mal) ke luar Jakarta MUNGKIN BISA MEMBANTU MENGURANGI kemacetan yang terjadi.

    Masih banyak solusi lain, dan ini bisa jadi salah satunya. Terimakasih buat Om Sesa yang udah menyumbang ide.

    Face it laaa… Jakarta itu udah enggak sustainable lagi menampung kita-kita. (Keren gak bahasa gw? Om Foke?)

    hanya dua sen saya

     
  7. Ari artspidey

    October 26, 2010 at 11:11

    sebenernya saya komentar di sini atas permintaan teman twitter @Sesa_Opas

    Pada awal tulisan ini @RoySayur mengatakan macet karena perilaku atau karakter pengguna jalannya.

    Saya setuju itu adalah salah satu faktor penyebab.

    Saya sudah lama berpikir dan belum sempat menulis pemikiran saya mengenai solusi kemcaetan Jakarta.

    biarlah saya mengkemukakan solusi ala saya untuk mengurai masalah yang sangat kompleks di Jakarta ini

    pertama,

    sumber pertama macet adalah terlalu banyaknya kendaraan melebihi kapasitas jalan yang ada.

    Iya dong. coba mobil cuma satu jalannya seribu, bukan macet kan…..

    Nah langkah pertama yg harus dilakukan adalah menekan pertumbuhan kendaraan terutama kendaran pribadi.

    How? Gimana?

    Pajak kendaraan pribadi dinaikin kalo perlu sama seperti harga kendaraaannya.

    Anjrit, mahal banget dong.. gw ga bisa beli kendaraan pribadi dong…

    JUSTRU ITU! biar sedikit yg mampu beli kendaraan pribadi.

    Nah langkah kedua, mau tak mau,
    TRANSPORTASI UMUM itu diperbanyak, yaaaa gunakaan duit pajak kendaraan yg tinggi tadi. Jangan dikorupsi yeee…..

    Terapkan sistem gaji pada TRANSPORTASI UMUM karena sistem setoran, mebuat supir angkutan umum nyetir sembarangan. Kesal deh liatnya..

    ketiga, SIM Surat Ijin Mengemudi atau Driving License, jangan diberikan seenaknya, asal ada duit SIM bisa jadi cepat.
    Nah ini penting karena SIM adalah bagian dimana mendidik pengemudi untuk benar2 displin dalam berkendara.

    POLRI boleh bangga pelayanan perpanjang SIM lebih cepat, yaaaaa bangga juga gitu kalo Pengemudi jadi lebih cepat melanggar lalu lintas dan tinggal damai (bayar polisi di tempat)?
    Polisi itu tugasnya menjaga keteraturan dong, jangan perbaiki image doang.

    Adu apa lagi yah?

    oh iya tarif parkir naik itu wacana pemda DKI yg kurang tepat. Saya rasa Foke takut membunuh industri otomotif, tapi tau gak Jakarta itu udah lumpuh karena macet dan udah mau mati juga.

    SALAM CINTA untuk Jakarta
    by
    @artspidey

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: