RSS

Pembenaran Atas Nama Mencari Makan

22 Oct

“Kalo nggak gini nggak makan, bos”

Sering denger ungkapan itu nggak? Gue sendiri denger ungkapan ini dari salah seorang penjual ayam di pasar yang kebetulan lagi dirazia polisi. Dia ketauan jualan ayam tiren dan setelah dimarahin dia ngomong begini “Harga ayam yang bagus itu mahal bos. Kalo gue jual ketinggian gak ada yang mau beli. Ya gue jual aja ayam yang tiren. Kalo nggak gini nggak bisa makan, bos”. Mendengar ungkapan ini gue coba berempati terhadap dia, tapi bagaimanapun apa yang dia udah perbuat itu merugikan orang lain bahkan memakan korban.

Gue mau coba ambil contoh lain, gue dulu pernah nonton acara Buser di tv. Ceritanya ada preman terminal yang biasa malakin angkot ditangkep. Dia ngomong “ampun bos, saya berbuat gini bukan mau saya. Saya punya istri dan anak yang masih kecil-kecil”. Gue mikir juga, pantes gak sih gue berempati terhadap mereka? Karena si preman tersebut ternyata ditangkap karena nusuk supir angkot yang setorannya kurang.

Gue tambahin satu lagi, seorang pengusaha besar ditangkap oleh polisi karena menggunakan uang perusahaan untuk kebutuhan pribadi. Menurut media, alasan dia menggunakan uang perusahaannya adalah untuk kebutuhan sehari-hari karena dililit oleh utang bank. Kebutuhan sehari-hari ini ternyata ketidakmampuan dia mengubah gaya hidup di saat terpuruk.

Terlalu banyak orang melakukan pembenaran atas nama “cari makan”. Apakah kita semua lupa kalau mencari makan harus dengan cara yang halal? Orang-orang ini tentunya terhimpit akan masalah ekonomi dan termasuk golongan yang menyalahkan perilaku pemerintah karena mereka merasa tidak mampu karena kerja pemerintah yang kurang baik, korupsi dan sebagainya.

Gue sendiri ngerasa kalo mereka-mereka ini suatu hari duduk dapat kesempatan untuk bekerja di pemerintahan bakalan berbuat yang sama tetap dengan alasan “cari makan”.

Coba kita pikirin baik-baik, apakah memang harus dibenarkan?

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on October 22, 2010 in Psychology

 

Tags: , ,

3 responses to “Pembenaran Atas Nama Mencari Makan

  1. @LeoneHan

    October 22, 2010 at 15:48

    Y sebenernya apa yang mereka lakukan tetap salah sih. Harusnya mereka bisa menyesuaikan kondisi dengan pendapatan mereka. Misalnya seperti seorang (maaf) pemulung yang memiliki anak lebih dari 2 dan mempekerjakan anak mereka sebagai pemulung juga. Jika hal ini terus berlanjut, tingkat kriminalitas akan terus meningkat dan moral bangsa akan semakin terpuruk.

     
  2. aryawasho

    October 23, 2010 at 06:54

    Susah juga sih, tp kalau cara pembenarannya ky yg diatas menurut saya juga ga bisa ditolerir lah. Tp kadang ada suatu kondisi dimana cuma naluri kita masing2 yg bisa menilai itu bener atau salah.

     
  3. bukan detikcom

    November 4, 2010 at 17:00

    pembenaran atau bahasa teorinya itu rasionalisasi emang salah satu yang harus ada dalam kejahatan sih.

    Kita harus pandai membedakan…mana alasan dan mana rasionalisasi. Alasan itu datangnya sebelum keputusan bertindak, sementara rasionalisasi datangnya setelah ada keputusan bertindak.

    Nah, dalam kasus kejahatan itu kebanyakan alasannya males, malu untuk kerja halal rendahan…rasionalisasinya yah untuk cari makan anak istri. 😀

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: