RSS

Melihat Ke Atas

24 Nov

Kita sebagai manusia, mahluk dualisme… pada umumnya senang membanding-bandingkan. Baik-buruk, terang-gelap, hitam-putih dan seterusnya. Begitu juga dengan kehidupan, kita senang membandingkan kalau si A lebih sukses dari si B atau si B lebih cantik dari si A.

Dalam hidup seiringnya bertambah usia, kita pasti berharap akan peningkatan kualitas hidup. Mungkin dari sisi finansial, emosional, jabatan atau contoh yang lainnya. Kita mengenyam pendidikan, belajar, bekerja, berkarya. Di saat kita mengalami kegagalan atau keterpurukan dalam hidup biasanya banyak yang menghibur dan menasihati bahwa kita harus bersyukur dan melihat ke bawah. Masih banyak orang-orang yang nasibnya kurang beruntung dibanding kita.

Benar sekali. Memang dalam hidup kita harus senantiasa ikhlas dan bersyukur karena biasanya manusia mengalami gelisah dan ketidakpuasan secara terus menerus. Tetapi, kata ikhlas di sini seringkali disamartikan dengan pasrah. Selanjutnya pasrah disamakan dengan tawakal (mengutip lirik rap Pandji Pragiwaksono dari lagu “I Told You”). Kita jadi terus menerus melihat ke bawah dan tidak berusaha meningkatkan kualitas dengan alasan “Ikhlas dan bersyukur”.

Menurut saya pribadi, tidak ada salahnya kita “melihat ke atas” membandingkan diri kita dengan orang yang lebih baik (mungkin) secara pencapaian hidupnya. Kenapa tidak? Kalau kita menjadikan mereka “role model” sehingga kita semakin termotivasi untuk memperbaiki diri sehingga bisa sama atau bahkan melebihi.

Coba bayangkan seorang anak yang sedari kecil terus menerus diajarkan untuk melihat ke bawah saat mengalami kegagalan tanpa memperhatikan fakta bahwa dia harus terus menerus didorong untuk maju? Memang saya sadar untuk pernyataan “Melihat ke Atas” ini jika diterapkan secara langsung bisa berakibat buruk. Sekali lagi menurut saya; antara renungan “Melihat ke Atas” dan “Melihat ke Bawah” ada porsinya masing-masing. Saya sendiri menulis ini merasa bahwa banyak orang termasuk saya sendiri yang lebih sering “Melihat ke Bawah” saat mengalami kegagalan dan saat menjalani hidup. Kesimpulannya, tidak salah untuk “Melihat ke Atas” 🙂

Advertisements
 
7 Comments

Posted by on November 24, 2010 in Psychology

 

7 responses to “Melihat Ke Atas

  1. bekcubekyunank

    November 24, 2010 at 13:42

    om. aku suka tulisannya 😉

     
  2. dwijef

    November 24, 2010 at 14:02

    *playing the devil’s advocate >:)

    jadi menurut lo salah kalo melihat ke bawah? itu artinya lo enggak bersyukur. udah dikasih ini itu sama Tuhan, masih juga enggak mau ngeliat ke orang lain yang kurang beruntung.

    trus lo pikir bener juga kalo lo melihat ke atas? berarti lo iri plus cemburu sama keberuntungan orang lain. kebanyakan kita cuma bisa ngeliat ke atas sambil iri. “ah, dia kan orangtuanya kaya”, “ah dia kan emang orangnya rajin”, “dia mah enak bisa kuliah di luar negeri”.

    pikir lagi.

    hanya dua sen saya.

     
  3. kHie

    November 24, 2010 at 17:44

    Bicara soal melihat ke atas dan atau ke bawah, saat ini gue merasa bersyukur. Senin – jumat gue seperti ‘harus’ melihat ke atas, di kantor mesti berpacu untuk sebuah prestasi. Dan hari minggu berkumpul dgn anak2 jalanan & tidak mampu seolah2 ‘menyuruh’ gue untuk melihat ke bawah. Sabtu gue jeda sejenak. Pembagian hari yang seolah ga seimbang, tapi gue menikmatinya #eeaaa #malahcurhat wakakak *misi bang sesa, numpang baca blognya ^_^ v

     
  4. rivanlee

    November 24, 2010 at 22:29

    Kita mmg boleh melihat ke atas, tp lebih penting memperhatikan proses bagaimana ia menjadi diatas. Bkn pas dia sudah diatas

     
  5. bluethunderheart

    November 27, 2010 at 21:15

    menarik
    blue suka ini
    salam hangat ari blue

     
  6. Penulis Cemen

    February 4, 2011 at 13:05

    emang sih nggak salah kalo “melihat ke atas”, tapi jangan kelamaan liatnya. Kalo kelamaan “liat ke atas” kita bisa lupa diri.

     
  7. Dian Paramita

    February 28, 2011 at 15:48

    Setuju Mas Sesa. Melihat ke bawah tidak membuat kita keluar dari zona aman. Padahal keluar dari zona aman itu membuat kita gelisah dan terdorong untuk berusaha menjadi lebih baik.

    Melihat ke atas adalah tamparan yang mengeluarkan kita dari zona aman lalu kitapun harus berusaha. 🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: