RSS

Category Archives: Psychology

Sukses Karena Dendam?

Sukses!Sukses karena dendam, sebuah kalimat yang menggelitik gue (tanpa ketawa) yang keluar dari ucapan seorang penyiar bernama Erlan Dwi Anto (@erlandwianto) dari acara radio bernama Sound Of Spirit yang gw dengarkan hampir setiap pagi semenjak dari tahun 2004. Mungkin boleh dibilang acara siraman rohani islam, acara motivasi dan juga yang lain-lain.

Ali bin Ibrahim Al-NaimiSukses karena dendam, beberapa orang yang gw kenal juga berhasil meraih kesuksesan akibat kekecewaan mungkin akibat disakiti di masa lalu. Dan sebelum menulis ini, gw juga sempet menemukan postingan “Dendam Positif” di blog lain. Layak dibaca.

Yang masih membingungkan jika motivasi untuk maju lahir dari dendam, apakah nanti di saat sukses dia akan tidak bersyukur dan menginjak orang lain sebagai batu loncatan kesuksesannya lebih lanjut?

Setiap kali gw ngeliat ungkapan “It’s always been me vs the world from day 1”, gw selalu berpikir “Whatever happens with God?”
Mungkin kalau sudah sampai ke ranah agama, itu kembali lagi ke kepercayaan masing-masing. I don’t know, Menurutlo sendiri gimana?

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on December 23, 2011 in Psychology, Work

 

Tags: , ,

Indonesia Butuh Superhero?

Spiderman   Menurut Wikipedia (kurang lebih): Superhero adalah karakter tipikal yang melindungi publik. Biasanya para superhero ini memiliki ciri umum seperti memiliki kemampuan super/berbeda, peralatan khusus, kode etik moral yang kuat dan identitas rahasia.

Umumnya kita bisa liat para superhero luar negeri melalui media komik, film dsb seperti Superman, Spiderman, Kamen Rider. Bagaimana dengan superhero lokal seperti Gundala, Caroq dll?

 

  Yang gue tau, komik superhero lokal sudah tidak ada atau kalaupun ada relatif lebih sulit didapat dan hampir tidak menyentuh media mainstream. Apalagi filmnya. Yang gue tau itu, film Gundala Putra Petir di tahun 1982 (dimana gue sendiri belum lahir).
Kenapa gue ngomong Indonesia butuh superhero? Seperti lo tau sendiri, keadaan negara kita saat ini kurang baik. Korupsi menjadi suatu hal yang dimaklumkan, premanisme dari level bawah sampe tingkat pemerintahan. Banyak ‘value’ yang menurut gue kurang baik.

‘Value’ yang didapat dari manusia itu terutama didapat dari lingkungan sosialisasi primer yaitu orang tua, teman-teman. Di kala seorang anak bertumbuh dewasa, dia butuh seorang idola/role model. Menurut pendapat pribadi gue, jika seorang anak tumbuh dewasa dengan role model superhero yang memiliki kode etik moral yang kuat sedikit banyak akan mempengaruhi bagaimana si anak akan bertindak. Memang tidak salah jika si anak tumbuh dengan role model superhero luar negeri. Mereka juga memiliki kode etik moral yang kuat. Tetapi bukankah  alangkah baiknya jika cerita superheronya lebih dekat ke kehidupan kita sehari-hari? Selain bisa menghidupkan komik/perfilman nasional, kita lebih bisa ‘relate’ dengan cerita/pesannya sesuai dengan kehidupan sehari-hari.

Mungkin ini hanya sekilas pikiran dari seorang penggemar superhero saja yang mau dishare. Mungkin ada pendapat/masukkan lain, silakan saja 🙂

 
3 Comments

Posted by on July 27, 2011 in Psychology

 

Tags: , ,

Melihat Ke Atas

Kita sebagai manusia, mahluk dualisme… pada umumnya senang membanding-bandingkan. Baik-buruk, terang-gelap, hitam-putih dan seterusnya. Begitu juga dengan kehidupan, kita senang membandingkan kalau si A lebih sukses dari si B atau si B lebih cantik dari si A.

Dalam hidup seiringnya bertambah usia, kita pasti berharap akan peningkatan kualitas hidup. Mungkin dari sisi finansial, emosional, jabatan atau contoh yang lainnya. Kita mengenyam pendidikan, belajar, bekerja, berkarya. Di saat kita mengalami kegagalan atau keterpurukan dalam hidup biasanya banyak yang menghibur dan menasihati bahwa kita harus bersyukur dan melihat ke bawah. Masih banyak orang-orang yang nasibnya kurang beruntung dibanding kita.

Benar sekali. Memang dalam hidup kita harus senantiasa ikhlas dan bersyukur karena biasanya manusia mengalami gelisah dan ketidakpuasan secara terus menerus. Tetapi, kata ikhlas di sini seringkali disamartikan dengan pasrah. Selanjutnya pasrah disamakan dengan tawakal (mengutip lirik rap Pandji Pragiwaksono dari lagu “I Told You”). Kita jadi terus menerus melihat ke bawah dan tidak berusaha meningkatkan kualitas dengan alasan “Ikhlas dan bersyukur”.

Menurut saya pribadi, tidak ada salahnya kita “melihat ke atas” membandingkan diri kita dengan orang yang lebih baik (mungkin) secara pencapaian hidupnya. Kenapa tidak? Kalau kita menjadikan mereka “role model” sehingga kita semakin termotivasi untuk memperbaiki diri sehingga bisa sama atau bahkan melebihi.

Coba bayangkan seorang anak yang sedari kecil terus menerus diajarkan untuk melihat ke bawah saat mengalami kegagalan tanpa memperhatikan fakta bahwa dia harus terus menerus didorong untuk maju? Memang saya sadar untuk pernyataan “Melihat ke Atas” ini jika diterapkan secara langsung bisa berakibat buruk. Sekali lagi menurut saya; antara renungan “Melihat ke Atas” dan “Melihat ke Bawah” ada porsinya masing-masing. Saya sendiri menulis ini merasa bahwa banyak orang termasuk saya sendiri yang lebih sering “Melihat ke Bawah” saat mengalami kegagalan dan saat menjalani hidup. Kesimpulannya, tidak salah untuk “Melihat ke Atas” 🙂

 
7 Comments

Posted by on November 24, 2010 in Psychology

 

Pembenaran Atas Nama Mencari Makan

“Kalo nggak gini nggak makan, bos”

Sering denger ungkapan itu nggak? Gue sendiri denger ungkapan ini dari salah seorang penjual ayam di pasar yang kebetulan lagi dirazia polisi. Dia ketauan jualan ayam tiren dan setelah dimarahin dia ngomong begini “Harga ayam yang bagus itu mahal bos. Kalo gue jual ketinggian gak ada yang mau beli. Ya gue jual aja ayam yang tiren. Kalo nggak gini nggak bisa makan, bos”. Mendengar ungkapan ini gue coba berempati terhadap dia, tapi bagaimanapun apa yang dia udah perbuat itu merugikan orang lain bahkan memakan korban.

Gue mau coba ambil contoh lain, gue dulu pernah nonton acara Buser di tv. Ceritanya ada preman terminal yang biasa malakin angkot ditangkep. Dia ngomong “ampun bos, saya berbuat gini bukan mau saya. Saya punya istri dan anak yang masih kecil-kecil”. Gue mikir juga, pantes gak sih gue berempati terhadap mereka? Karena si preman tersebut ternyata ditangkap karena nusuk supir angkot yang setorannya kurang.

Gue tambahin satu lagi, seorang pengusaha besar ditangkap oleh polisi karena menggunakan uang perusahaan untuk kebutuhan pribadi. Menurut media, alasan dia menggunakan uang perusahaannya adalah untuk kebutuhan sehari-hari karena dililit oleh utang bank. Kebutuhan sehari-hari ini ternyata ketidakmampuan dia mengubah gaya hidup di saat terpuruk.

Terlalu banyak orang melakukan pembenaran atas nama “cari makan”. Apakah kita semua lupa kalau mencari makan harus dengan cara yang halal? Orang-orang ini tentunya terhimpit akan masalah ekonomi dan termasuk golongan yang menyalahkan perilaku pemerintah karena mereka merasa tidak mampu karena kerja pemerintah yang kurang baik, korupsi dan sebagainya.

Gue sendiri ngerasa kalo mereka-mereka ini suatu hari duduk dapat kesempatan untuk bekerja di pemerintahan bakalan berbuat yang sama tetap dengan alasan “cari makan”.

Coba kita pikirin baik-baik, apakah memang harus dibenarkan?

 
3 Comments

Posted by on October 22, 2010 in Psychology

 

Tags: , ,