RSS

MRT untuk Jakarta

Apakah program MRT akan berhasil di Jakarta? Menurut pendapat pribadi gw, tidak!

Kebanyakan pengguna jalan di Jakarta ini adalah golongan pekerja, dan sebagian lain adalah anak sekolah, kuliah dll. Para pengguna jalan ini menggunakan 2 cara: angkutan umum dan kendaraan pribadi. Kita para pengguna jalan ini sering mengeluhkan macet. Kecuali mungkin para pengguna kereta api yang memiliki kendala jadwal kereta yang telat atau pengalihan jalur dan juga pengguna Trans Jakarta yang mengeluhkan kurangnya armada bus.

Solusinya? Gunakan kendaraan umum. Begitu kata orang-orang.
Gw sendiri dari kalangan pekerja kadang merasa naik angkutan umum biayanya akan lebih mahal daripada memiliki kendaraan pribadi sendiri. Yang gw maksud di sini adalah sepeda motor. Mungkin lo bisa liat sendiri, BANYAK SEKALI sepeda motor yang menguasai jalanan di Jakarta ini.

Mengapa orang memilih menggunakan sepeda motor?
Gw mencoba melihat dari 2 sisi: Finansial dan Psikologis.
Finansial? Jelas, bahwa konsumsi bensin sepeda motor sangat hemat dibandingkan biaya menggunakan kendaraan umum. Di bawah ini gambar tabel konsumsi bensin sepeda motor dari blog http://ridertua.wordpress.com

Dari sisi psikologis? Manusia pada dasarnya adalah mahluk yang senang memegang kendali atas sesuatu. Minimal kendali atas hidupnya sendiri.

Kalo gw punya motor sendiri, gw bisa “mengendalikan” sendiri nasib gw sampe ke tempat yang dituju dan lebih cepat sampai. Padahal sih belum tentu juga. Tapi ada perasaan “berkuasa” itu. Dan tadi sempet ada yang nyeletuk ke gw di twitter. “Kalo MRT biayanya Rp. 1000, gimana?”. Gw ngejawab, “tetep bukan gw yang nyetir” 😀

Kalo ngomongin MRT, sebenernya Kereta dan Trans Jakarta itu sudah merupakan MRT. Tapi tetep banyak orang yang nggak mau naik itu dengan berbagai alesan.
Jadi, menurut gw kalo MRT mau sukses? Ya harus dipaksa… Tapi bentrok dengan Hak Asasi Manusia atau enggak?

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on April 19, 2011 in Urban

 

Tags: , , ,

Astuti The New Version

Pagi ini, gw mendapat pertanyaan dari temen gw Handy di twitter (@ramadhanhandysv) tentang apakah gw udah liat video klip “Astuti” di Youtube. Memang beberapa hari yang lalu, gw udah baca di twitter tentang peredaran video klip ini tapi memang kebetulan gwnya lagi agak males dan capek(padahal gak ngapa-ngapain) buka.

Si Handy ini ngotot supaya gw buka. Katanya dijamin ketawa. Buka deh gw jadinya video klip tersebut…

Setelah gw nonton, ngerasa aneh. Antara mau ketawa dan nggak nyaman. Gw bukannya mau sok ngenilai karena gw sendiri bukan musisi maupun videografer, tapi menurut lo gimana?

 
5 Comments

Posted by on April 18, 2011 in Music

 

Tags: ,

Lagu Anak-Anak

Saat ini saya agak sedih melihat kenyataan di masyarakat dimana anak-anak menyanyikan lagu-lagu orang dewasa. Tanpa ada maksud menyinggung musik yang anak-anak itu nyanyikan.

Mungkin musik mereka bagus dan nyaman didengar, tapi ada beberapa lirik yang menurut saya kurang tepat kalau dinyanyikan anak-anak. Oleh karena itu saya iseng-iseng membuat “Remix” dari salah satu lagu anak-anak yang populer jaman saya kecil dan pernah dipopulerkan juga oleh trio Warkop DKI yaitu lagu Burung kakaktua. Memang musik ini masih “kosong” atau hanya berupa beat saja. Jika ada penyanyi atau rapper yang mau mengisi lagu ini saya persilakan 🙂

Bisa download dari halaman Reverbnation saya di:

http://www.reverbnation.com/opas

atau langsung download di:

http://tinyurl.com/kakaktua

 
6 Comments

Posted by on February 25, 2011 in Music

 

Melihat Ke Atas

Kita sebagai manusia, mahluk dualisme… pada umumnya senang membanding-bandingkan. Baik-buruk, terang-gelap, hitam-putih dan seterusnya. Begitu juga dengan kehidupan, kita senang membandingkan kalau si A lebih sukses dari si B atau si B lebih cantik dari si A.

Dalam hidup seiringnya bertambah usia, kita pasti berharap akan peningkatan kualitas hidup. Mungkin dari sisi finansial, emosional, jabatan atau contoh yang lainnya. Kita mengenyam pendidikan, belajar, bekerja, berkarya. Di saat kita mengalami kegagalan atau keterpurukan dalam hidup biasanya banyak yang menghibur dan menasihati bahwa kita harus bersyukur dan melihat ke bawah. Masih banyak orang-orang yang nasibnya kurang beruntung dibanding kita.

Benar sekali. Memang dalam hidup kita harus senantiasa ikhlas dan bersyukur karena biasanya manusia mengalami gelisah dan ketidakpuasan secara terus menerus. Tetapi, kata ikhlas di sini seringkali disamartikan dengan pasrah. Selanjutnya pasrah disamakan dengan tawakal (mengutip lirik rap Pandji Pragiwaksono dari lagu “I Told You”). Kita jadi terus menerus melihat ke bawah dan tidak berusaha meningkatkan kualitas dengan alasan “Ikhlas dan bersyukur”.

Menurut saya pribadi, tidak ada salahnya kita “melihat ke atas” membandingkan diri kita dengan orang yang lebih baik (mungkin) secara pencapaian hidupnya. Kenapa tidak? Kalau kita menjadikan mereka “role model” sehingga kita semakin termotivasi untuk memperbaiki diri sehingga bisa sama atau bahkan melebihi.

Coba bayangkan seorang anak yang sedari kecil terus menerus diajarkan untuk melihat ke bawah saat mengalami kegagalan tanpa memperhatikan fakta bahwa dia harus terus menerus didorong untuk maju? Memang saya sadar untuk pernyataan “Melihat ke Atas” ini jika diterapkan secara langsung bisa berakibat buruk. Sekali lagi menurut saya; antara renungan “Melihat ke Atas” dan “Melihat ke Bawah” ada porsinya masing-masing. Saya sendiri menulis ini merasa bahwa banyak orang termasuk saya sendiri yang lebih sering “Melihat ke Bawah” saat mengalami kegagalan dan saat menjalani hidup. Kesimpulannya, tidak salah untuk “Melihat ke Atas” 🙂

 
7 Comments

Posted by on November 24, 2010 in Psychology

 

Pembenaran Atas Nama Mencari Makan

“Kalo nggak gini nggak makan, bos”

Sering denger ungkapan itu nggak? Gue sendiri denger ungkapan ini dari salah seorang penjual ayam di pasar yang kebetulan lagi dirazia polisi. Dia ketauan jualan ayam tiren dan setelah dimarahin dia ngomong begini “Harga ayam yang bagus itu mahal bos. Kalo gue jual ketinggian gak ada yang mau beli. Ya gue jual aja ayam yang tiren. Kalo nggak gini nggak bisa makan, bos”. Mendengar ungkapan ini gue coba berempati terhadap dia, tapi bagaimanapun apa yang dia udah perbuat itu merugikan orang lain bahkan memakan korban.

Gue mau coba ambil contoh lain, gue dulu pernah nonton acara Buser di tv. Ceritanya ada preman terminal yang biasa malakin angkot ditangkep. Dia ngomong “ampun bos, saya berbuat gini bukan mau saya. Saya punya istri dan anak yang masih kecil-kecil”. Gue mikir juga, pantes gak sih gue berempati terhadap mereka? Karena si preman tersebut ternyata ditangkap karena nusuk supir angkot yang setorannya kurang.

Gue tambahin satu lagi, seorang pengusaha besar ditangkap oleh polisi karena menggunakan uang perusahaan untuk kebutuhan pribadi. Menurut media, alasan dia menggunakan uang perusahaannya adalah untuk kebutuhan sehari-hari karena dililit oleh utang bank. Kebutuhan sehari-hari ini ternyata ketidakmampuan dia mengubah gaya hidup di saat terpuruk.

Terlalu banyak orang melakukan pembenaran atas nama “cari makan”. Apakah kita semua lupa kalau mencari makan harus dengan cara yang halal? Orang-orang ini tentunya terhimpit akan masalah ekonomi dan termasuk golongan yang menyalahkan perilaku pemerintah karena mereka merasa tidak mampu karena kerja pemerintah yang kurang baik, korupsi dan sebagainya.

Gue sendiri ngerasa kalo mereka-mereka ini suatu hari duduk dapat kesempatan untuk bekerja di pemerintahan bakalan berbuat yang sama tetap dengan alasan “cari makan”.

Coba kita pikirin baik-baik, apakah memang harus dibenarkan?

 
3 Comments

Posted by on October 22, 2010 in Psychology

 

Tags: , ,

Most of The Beautiful/Attractive Women Are Not Available

Read the title? This is not my theory but this is just something I read somewhere on the web and a big topic of discussions amongst me and my friend.

That if you saw or maybe one of your friend is stunningly beautiful or attractive “claiming” that she was single, The probability is that she:
a. Just got dumped and still can’t get over her ex
b. Pretend that she was single and just wanna have those guilty pleasure with other men
c. Had a “frigid” attitude towards men (Yes, the fact is there are some women)
d. Still can’t get over her ex even though it’s been a long time
e. Is a lesbian

I made this list not in any way to degrade women. It’s just something between me and my friends have talked about for a long time.

Feel free to call me and my friends STUPID or whatever but it’s just an opinion 🙂

 
6 Comments

Posted by on October 19, 2010 in Relationships

 

Tags: ,

Macet, Mal dan Urbanisasi


Macet. Buat orang yang tinggal di Jakarta, hal ini menjadi sebuah momok. Terlalu banyak penduduk? Terlalu banyak kendaraan bermotor? Infrastruktur yang kurang menunjang? Tidak adanya kepedulian dari Foke? Terlalu banyak Mall? Banyak hal yang menurut saya yang menjadi pemicu kemacetan.

Berawal dari statement yang dilontarkan @RoySayur di twitter yang menilai kalau penyebab kemacetan paling utama di Jakarta adalah karakter manusia pengguna jalannya, saya juga ingin mengajukan faktor pendukung penyebab kemacetan di Jakarta.

Menurut saya Mall atau Mal(diindonesiakan) adalah salah satuMal faktor pendukung penyebab kemacetan di Indonesia. Seringkali saya berpikir, kalo ke Mal itu hanya pada saat Sabtu-Minggu. Seiring berjalannya waktu, hal ini sudah tidak bisa dibenarkan lagi. Banyak bidang pekerjaan yang menjadikan Mal sebagai tempat meeting terutama mal yang memiliki Café atau Coffee Shop dimana mereka bisa berlama-lama membahas suatu masalah.

Bagi mereka yang bekerja di dunia hiburan seperti musisi, artis, penulis, sutradara dan masih banyak lagi, mereka sering menjadikan mal sebagai tempat meeting internal ataupun bertemu dengan pihak klien. Hal ini juga mengingat bahwa dengan begini mereka tidak perlu menyewa tempat untuk dijadikan kantor. Mereka tidak perlu khawatir dengan biaya utilitas seperti listrik, air dll. Cukup membawa Laptop, Notebook, iPad beserta chargernya, mereka sudah bisa bekerja dengan maksimal. Apalagi bila café/coffee  shop tersebut sudah difasilitasi dengan Wi-fi gratis.

Terkait dengan jumlah penduduk di Jakarta, menurut saya Mal itu sendiri jadi daya tarik bagi orang untuk ber-urbanisasi. Mengapa? Orang beranggapan bahwa Mal itu sebagai tempat rekreasi untuk seluruh keluarga dan juga kesempatan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan. Sesuai dengan pernyataan ahli tata kota yang diwawancara Pandji Pragiwaksono (@pandji) di acara radio Provocative Proactive di Hardrockfm, bahwa sampai saat ini ada lebih dari 100 Mal di Jakarta dan diperkirakan masih akan bertambah sekitar 100 lagi.

Melihat hal ini, saya berpendapat salah satu solusi kemacetan adalah dengan memindahkan ataupun membangun Mal di daerah-daerah lain terutama di luar Pulau Jawa. Saya percaya sedikit banyak hal ini bisa membantu pemerataan penduduk dan nantinya kesejahteraan (berharap). Komentar dan masukannya ditunggu 🙂

 
7 Comments

Posted by on October 13, 2010 in Uncategorized, Urban

 

Tags: , ,